Rabu, 26 Desember 2012

Bibit, bebet, bobot.

Aku - saat itu mahasiswa berusia 21 tahun –
Sedang menjenguk seorang teman atau bisa disebut sahabat di sebuah rumah sakit negeri,  daerah tempatku tinggal. Aku  mengambil seribu langkah, berjalan cepat melewati koridor rumah sakit. Butuh waktu 5-7 menit untuk sampai dikamar tempat sahabatku dirawat. Aku tidak sabar, ingin segera melihat keadaannya, kabarnya dia terkena penyakit demam berdarah yang memang sedang mewabah di daerah ini.  Aku khawatir dengan kondisinya yang katanya semakin lemah. 
Akhirnya, aku pun tiba di kamar VIP 2 tempat dia dirawat. Ahh.. dia tampak lesu dan terbaring lemah disana. Cepat-cepat aku memberikan jus jambu merah yang sengaja ku beli di swalayan dekat rumah sakit.  Dia bilang, orang tuanya akan tiba petang ini.  Jantungku berdegup kencang-pelan-kencang, tidak beraturan.  Aku gugup. Entah mengapa. Lalu aku bingung harus bertindak apa. Apakah aku harus  segera beranjak dari tempat ini atau bertahan sampai orangtuanya tiba.
Aku memilih bertahan, menjaganya sampai orang tuanya tiba. Itu mungkin lebih baik, karena aku tidak tega meninggalkannya dengan kondisi yang seperti ini. Aku menggenggam tangannya sembari memohon dalam hati, berharap kesehatannya membaik. Ahh.. Tuhan, seandainya dia tau isi hatiku.
Kemudian orang tuanya datang. Dengan sigap aku melepaskan genggaman tanganku.  Jantungku berdegup tak beraturan-gugup- salah tingkah. Gugupku semakin menggila saat ibunya menatapku tajam. Aku mencoba ramah-dengan melemparkan senyum dan menyalam  mereka. Namun sayang, senyum tak berbalas. Salam tak berhangat. Kaku . Dingin….
Hati serasa tersayat. Mengapa mereka ? adakah yang salah yang kulakukan? Adakah pakaianku tidak menarik bagi mereka. Ahhh.. “sandal jepit”. Aku menatap kebawah. Seharusnya aku tidak memakai ini.
Aku termenung sejenak. --- melihat ibunya mendekapnya, mengecup keningnya—HANGAT, DEKAT. Aku ingin dia……”ahh, jangan bermimpi !”.  sebaiknya aku pergi, sebelum suasana ini dirusak oleh gembel bersandal jepit ini.
Aku pun melangkah pergi. Menangis menyusuri sepanjang koridor rumah sakit. Merasa sangat hina.
Terdengar suara di kepalaku  yang bertanya hampir sinis:

“Hey, engkau tidak ada apa-apanya bagi mereka. Jadi, tidak usah bermimpi untuk menjadi bagian dari mereka !”.

Sangat sedih .. . tapi juga marah.Merasa tidak memiliki apa-apa. Bahkan orangtua…
Dalam hati aku memohon dan bertekad untuk bangkit dari kehidupan pilu – menuju kehidupan yang lebih baik, yang mandiri, yang lebih kuat. HARUS BISA !. Karena aku lelah dihina, dipandang sinis dan sebelah mata. Air mata ini mungkin  tidak akan pernah berhenti  dan memang tidak boleh berhenti. Aku membutuhkan penghinaan, kesedihan dan air mata untuk mengerti luka sehingga bisa kuat,tahan banting --- mengantarkanku lebih cepat pada tujuan.

Terimakasih untuk  orangtua ------ BIBIT, BEBET, BOBOT--- akan bisa sampai, harus kugapai.


Ternyata, JIKA KITA CUKUP TERHINA DAN BERSABAR, KEAJAIBAN ITU MENJADI WAJAR.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar