Didalam keheningan, disudut ruangan perpustakaan yang lebih mirip kuburan ini aku mulai berpikir dan menyadari bahwa sepertinya kebanyakan manusia hidup untuk PENCITRAAN. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Sri Paus, ketika ada pendeta menghadapnya (entah paus yg keberapa),dia lalu bersimpuh di hadapan Sri Paus dan berucap: "apa yg bisa kulakukan ketika ku tak bisa menolak dosa dosa yg membuatku hampir mirip org yg tak beragama?". Jawaban Sri Paus: "BERPURA PURALAH".
---Orang yang dikenal sebagai Hamba Tuhan, bahkan dengan mudahnya masuk ke dalam kubangan kotor. Dua jempol tangan ditambah dua jempol kaki aku angkat kepada mereka yang sukses melakukan PENCITRAAN dengan sangat baik. Menggelitik akal dan naluri, ketika melihat mereka (yang mengaku "melayani Tuhan", "bekerja di ladang Tuhan" atau apalah istilah indah yang lain) naik ke altar dan kemudian memberitakan Injil dan berita kebaikan. Padahal jika diamati, mereka sendiri tidak bisa menerapkan apa yang mereka ucapkan di altar tempat-tempat ibadah. Rancu, ketika mereka mengajari anak-anak sekolah minggu tentang cinta kasih yang sesungguhnya, bukan hasrat dan nafsu membabi buta. Mengajarkan arti seorang sahabat yang setia mendengarkan, menghargai- menghormati, memberikan tumpangan bukan memanfaatkan dan melecehkan. Lantas, mengapa mereka berlelah-lelah berkoar-koar untuk sebuah kesia-siaan?.
Berpura-pura.. Pencitraan membuat mereka tampak lebih baik dari manusia lain yang lebih menyukai hal-hal spontan dan "BLAK-BLAKAN". --tidak suam-suam kuku.
Baiklah, pada akhirnya "Pendeta,Guru Sekolah Minggu, dan Pemuka Agama lain JUGA MANUSIA" adalah kalimat pembelaan yang paling tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar