Jumat, 30 November 2012


Jakarta , 26 Juli 2012.

Hari ini sedikit berbeda dari hari kemarin. Aku merasa ada yang hilang dari diriku. Dan aku belum tahu apa yang aku sebut dengan “hilang’ itu. Hanya saja, aku gelisah tak menentu. Aku khawatir tak karuan sementara aku terus menjalani aktivitasku seperti biasa. Bangun dari tidur, mandi, sarapan, dan pergi kekampus dengan cara yang biasa. “terburu-buru”. Meskipun aku sudah bangun lebih pagi, tapi tidak pernah berangkat tepat waktu dan sampai dikampus dengan tepat waktu.  Sesampai dikampus, masuk ruangan kuliah, mendengarkan celotehan sang dosen, mengernyitkan dahi ketika aku tak mengerti apa yang diajarkan oleh sang dosen, menjahili teman, lalu pulang dengan perut kelaparan. Bergegas pulang lalu makan, kemudian istirahat, membaca, menonton, mengerjakan tugas kuliah, lalu kembali tidur dan bangun pagi, berangkat ke kampus, dan seterusnya.....
Membosankan bukan?
Aku pikir dan aku bilang ya!
Aku masih ingat dahulu ketika aku masih duduk dibangku sekolah. Dulu, aku punya begitu banyak aktivitas yang membuatku tidak sempat berpangku tangan, melamun dan memikirkan hal yang tidak untuk dipikirkan.  Rasanya hidupku dulu lebih berwarna ketika aku belum mengerti apa-apa. Ketika yang ada di benakku hanya belajar dan bermain bersama teman. Saat itu aku masih percaya teman atau bahkan siapapun yang aku kenal. Keseharianku diisi dengan segudang aktivitas yang menyenangkan.
Tapi itu hanya cerita dulu.
Sekarang berbeda, jauh berbeda.
Sekarang aku akrab dengan penghakiman, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, caci maki dan hal buruk lainnya. Dulu, ketika masih kecil aku berpikir bahwa dunia orang dewasa itu sangat bebas dan menyenangkan sehingga aku akan makan dengan lahap ketika orang tuaku berkata “banyak-banyak ya makannya, biar cepat besar”.  Sekarang, aku seperti menyesal telah makan begitu banyak sehingga tidak hanya badanku yang membesar tapi juga ketika aku menyadari bahwa dunia orang dewasa itu rumit dan menyebalkan.  Aku melihat dan merasakan kerumitan itu.   Setiap hari orang dewasa terikat dengan aktivitas-aktivitas yang menggelikan. Bangun pagi, berangkat ke kampus/ kerja, mengikuti perintah dosen/atasan, dimarahi, disuruh ini itu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, harus begini, harus begitu, harus datang jam segini, harus selesai jam begini.
Ahhkk.. rasanyaaku belum siap menjadi orang dewasa. Sayangnya siap atau tidak seiring dengan waktu usia ini terus bertambah dan tidak bisa dihentikan apalagi dimundurkan (dibuat menjadi lebih muda). Oleh sebab itu, mau tidak mau-suka tidak suka aku harus siapkan diri untuk menghadapi kerumitan yang sudah ada didepan mata ini. Semoga kuat.. :)

Sesederhana ini


Hidup itu sebenarnya sederhana.. sesederhana saat kita bisa melakukan hal-hal kecil setiap hari. Hal-hal yang terlihat sepele, seperti : bangun lebih pagi, tersenyum, berjalan kaki, tertawa, menyiram tanaman, memasak atau bahkan mengucapkan selamat pagi dan mencium pasangan.
Hidup ini indah. Indah ketika kita mampu bersyukur untuk hal yang juga sederhana, yang tidak terlihat secara kasat mata tapi mampu mendamaikan jiwa. Syukur.. untuk makanan hari ini, syukur untuk anggota tubuh yang bergerak baik hari ini, syukur untuk kemudahan transportasi saat ini, syukur untuk anak dan keluarga yang sehat, yang masih bisa berkumpul, bercanda ria.
Untuk Sang Khalik yang Kuasa dan Esa..
Terimakasih untuk segalanya
Terimakasih untuk kehadiran setiap pribadi yang boleh mengajarkan ketegaran jiwa, hidup dan kehidupan. Semuanya tampak sempurna dan melengkapi satu sama lain. Ada sedih untuk bahagia dan ada bahagia untuk sedih. Segalanya indah.. teramat indah.
detik ini juga…
aku akan lebih bersyukur padaMu,
aku akan melihat keajabanMu,
kemurahan hatiMu.

Detik ini juga..
Mimpi-mimpi itu akan menjadi nyata bagiku, dan doa itu akan terjawab.
Kelak...
kelak...

Rancu Katanya,

Disudut Desa di Bagian Utara Tapanuli, Medan, Indonesia, 18 Oktober 1998.

“James, kita masuk tidak siang ini ?”. demikian pesan singkat ku kirimkan kepada temanku.
“Sepertinya tidak, ibunya tak kunjung membalas pesanku”. Balasnya kemudian.
Ini sudah yang kedua kalinya, sang guru tidak masuk mengajar kami, entah apa alasannya. Yang pasti teman-teman di ruangan akan bersorak gembira mendengar kabar yang tidak ada baiknya buatku. Aku bisa membayangkan bagaimana rupa wajah teman-temanku itu. Ahh.. andai saja aku bisa segembira itu. Andai saja setiap tetes air mata yang membulir di pipiku bisa digantikan dengan semangkok tawa itu.
Ya, ini hari ke lima puluh satu setelah jiwaku meninggalkanku.  Kamu tidak perlu tau namanya. Kamu hanya boleh tau, bagaimana aku memanggilnya.  Hanya kamu yang tau bagaimana aku memanggilnya, dia bahkan tidak tau kalau aku memangggilnya dengan kata “jiwaku”.  Dan, aku tidak mau memberitahu darimana aku mendapat nama yang terdengar aneh itu. Oiya.. dia punya nama yang  mungkin hanya aku dan dia yang tau. Hmmmm… namanya, “Jkoler" Terserah mau memilih yang mana, yang lebih nyaman kau ingat didalam benak dan disebut bibirmu.
Dulu, aku masih ingat bahagiaku ketika mendengar sang guru tidak masuk mengajar. Artinya aku bisa bebas pergi kemana saja, tentunya bersama Jiwaku. Aku akan menghabiskan waktuku bersamanya sampai jam pulang kuliah tiba. Kita sering makan siang bersama, menonton layar tancap dan mungkin menghitung bintang. 
Tapi sekarang berbeda,
Aku tidak sebahagia dulu,
Benakku bercakap-cakap sendirian, memikirkan hendak kemana kegiatan selanjutnya. Dan yang terlintas hanyalah pergi…menemui Jiwaku. Hatiku menyambut ligat apa yang terbenak, kaki dan tubuhku pun tak kalah bersorak. Ya, aku merindu teramat sangat pada Jiwaku. Entah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Ah, aku tidak mau peduli itu.
Segera aku mengeluarkan ponselku dan dengan riang, jariku menari dibutir-butirnya.
“Hai, sepertinya notebookku ada masalah, aku tidak bisa memberikan nomor  rupiah diujung setiap angka yang kubuat. Apakah kau bisa memperbaikinya?”.
Lama aku menunggu, sampai kemudian dia membalasnya.
“Ya, bisa. Datang saja”.


Tidak perlu menunggu lama, dengan hati yang entah mau gembira atau berduka aku datang menemuinya.
Dia berdiri di ambang pintu dan mengucapkan salam padaku. Aku membalasnya dengan sedikit menundukkan kepala. Aku tidak mau dia melihat rawut kerinduan menggila diwajahku.  Perlahan aku meletakkan tas ransel hitam pekat yang dibeli olehnya beberapa bulan yang lalu ketika hatinya masih berbunga-bunga padaku. Aku duduk dan melihat-lihat sekeliling kamar. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, kamarnya masih saja berantakan. Barang –barang sudah tidak lagi tepat pada tempatnya, sampah-sampah bersebaran dimana-mana. Dan.. tidak sedikit tissue bekas pembuangan cairan putih kental  tepat disebelah kasurnya.  Apa dia melakukannya setiap hari ?
Aku tiba-tiba teringat kala aku masih bersamanya, kala tubuh-tubuh, daging-daging menjadi satu dalam keraguan antara cinta dan nafsu.  Begitu hangat, saat tubuhnya yang kekar itu memelukku, mengecup daging merah dibawah hidungku, menarikan jemarinya disekujur tubuhku..
Aku terhanyut…atau mungkin terbang ke langit hilang..
Saat itu, hanya ada aku, kamu..dan cinta…atau nafsu.

Kadang aku berpikir bahwa cinta dan nafsu itu tidak bisa diperbandingkan. Cinta dan nafsu menyatu dalam satu paket. Cinta tanpa nafsu tidaklah akan mungkin ada dan terjadi, karena cinta tanpa nafsu untuk saling menjaga, saling memiliki bukanlah cinta bagiku. Nafsu tanpa cinta juga adalah percuma. Pencabulan..pemerkosaan ..adalah contohnya.
Lantas, apa dia hanya manusia dengan segumpal nafsu?
Adakah dia cinta, ketika dia dengan mudahnya meninggalkanku. Adakah dia cinta ketika dia bisa melihatku terpuruk tak berdaya, karena kepergiannya.
Mengapa tega… mengapa bisa?
Apa mungkin benar, aku telah ditipu olehnya?
Apa mungkin benar, dia lebih jahat dari apa yang kupikirkan saat ini.
Ahh, entahlah… apapun dia, yang pasti aku mencintainya. Dan masih tetap utuh… seperti saat ini.
---Dikutip seperlunya dari Novel "Asa di Kolong Langit"
To be Continued….