Disudut Desa di Bagian Utara Tapanuli, Medan, Indonesia, 18
Oktober 1998.
“James, kita masuk
tidak siang ini ?”. demikian pesan singkat ku kirimkan kepada temanku.
“Sepertinya tidak,
ibunya tak kunjung membalas pesanku”. Balasnya kemudian.
Ini sudah yang kedua
kalinya, sang guru tidak masuk mengajar kami, entah apa alasannya. Yang pasti
teman-teman di ruangan akan bersorak gembira mendengar kabar yang tidak ada
baiknya buatku. Aku bisa membayangkan bagaimana rupa wajah teman-temanku itu. Ahh..
andai saja aku bisa segembira itu. Andai saja setiap tetes air mata yang
membulir di pipiku bisa digantikan dengan semangkok tawa itu.
Ya, ini hari ke lima
puluh satu setelah jiwaku meninggalkanku.
Kamu tidak perlu tau namanya. Kamu hanya boleh tau, bagaimana aku
memanggilnya. Hanya kamu yang tau
bagaimana aku memanggilnya, dia bahkan tidak tau kalau aku memangggilnya dengan
kata “jiwaku”. Dan, aku tidak mau
memberitahu darimana aku mendapat nama yang terdengar aneh itu. Oiya.. dia
punya nama yang mungkin hanya aku dan
dia yang tau. Hmmmm… namanya, “Jkoler"
Terserah mau memilih yang mana, yang lebih nyaman kau ingat didalam benak dan
disebut bibirmu.
Dulu, aku masih
ingat bahagiaku ketika mendengar sang guru tidak masuk mengajar. Artinya aku
bisa bebas pergi kemana saja, tentunya bersama Jiwaku. Aku akan menghabiskan
waktuku bersamanya sampai jam pulang kuliah tiba. Kita sering makan siang
bersama, menonton layar tancap dan mungkin menghitung bintang.
Tapi sekarang
berbeda,
Aku tidak sebahagia
dulu,
Benakku
bercakap-cakap sendirian, memikirkan hendak kemana kegiatan selanjutnya. Dan
yang terlintas hanyalah pergi…menemui Jiwaku. Hatiku menyambut ligat apa yang
terbenak, kaki dan tubuhku pun tak kalah bersorak. Ya, aku merindu teramat
sangat pada Jiwaku. Entah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Ah, aku tidak
mau peduli itu.
Segera aku
mengeluarkan ponselku dan dengan riang, jariku menari dibutir-butirnya.
“Hai, sepertinya
notebookku ada masalah, aku tidak bisa memberikan nomor rupiah diujung setiap angka yang kubuat.
Apakah kau bisa memperbaikinya?”.
Lama aku menunggu,
sampai kemudian dia membalasnya.
“Ya, bisa. Datang
saja”.
Tidak perlu menunggu
lama, dengan hati yang entah mau gembira atau berduka aku datang menemuinya.
Dia berdiri di
ambang pintu dan mengucapkan salam padaku. Aku membalasnya dengan sedikit
menundukkan kepala. Aku tidak mau dia melihat rawut kerinduan menggila
diwajahku. Perlahan aku meletakkan tas
ransel hitam pekat yang dibeli olehnya beberapa bulan yang lalu ketika hatinya
masih berbunga-bunga padaku. Aku duduk dan melihat-lihat sekeliling kamar.
Tidak ada yang berubah dari tempat ini, kamarnya masih saja berantakan. Barang
–barang sudah tidak lagi tepat pada tempatnya, sampah-sampah bersebaran
dimana-mana. Dan.. tidak sedikit tissue bekas pembuangan cairan putih
kental tepat disebelah kasurnya. Apa dia melakukannya setiap hari ?
Aku tiba-tiba
teringat kala aku masih bersamanya, kala tubuh-tubuh, daging-daging menjadi
satu dalam keraguan antara cinta dan nafsu.
Begitu hangat, saat tubuhnya yang kekar itu memelukku, mengecup daging
merah dibawah hidungku, menarikan jemarinya disekujur tubuhku..
Aku terhanyut…atau
mungkin terbang ke langit hilang..
Saat itu, hanya ada
aku, kamu..dan cinta…atau nafsu.
Kadang aku berpikir
bahwa cinta dan nafsu itu tidak bisa diperbandingkan. Cinta dan nafsu menyatu
dalam satu paket. Cinta tanpa nafsu tidaklah akan mungkin ada dan terjadi,
karena cinta tanpa nafsu untuk saling menjaga, saling memiliki bukanlah cinta
bagiku. Nafsu tanpa cinta juga adalah percuma. Pencabulan..pemerkosaan ..adalah
contohnya.
Lantas, apa dia
hanya manusia dengan segumpal nafsu?
Adakah dia cinta,
ketika dia dengan mudahnya meninggalkanku. Adakah dia cinta ketika dia bisa
melihatku terpuruk tak berdaya, karena kepergiannya.
Mengapa tega…
mengapa bisa?
Apa mungkin benar,
aku telah ditipu olehnya?
Apa mungkin benar,
dia lebih jahat dari apa yang kupikirkan saat ini.
Ahh, entahlah…
apapun dia, yang pasti aku mencintainya. Dan masih tetap utuh… seperti saat
ini.
---Dikutip seperlunya dari Novel "Asa di Kolong Langit"
---Dikutip seperlunya dari Novel "Asa di Kolong Langit"
To be Continued….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar