Jumat, 30 November 2012

Rancu Katanya,

Disudut Desa di Bagian Utara Tapanuli, Medan, Indonesia, 18 Oktober 1998.

“James, kita masuk tidak siang ini ?”. demikian pesan singkat ku kirimkan kepada temanku.
“Sepertinya tidak, ibunya tak kunjung membalas pesanku”. Balasnya kemudian.
Ini sudah yang kedua kalinya, sang guru tidak masuk mengajar kami, entah apa alasannya. Yang pasti teman-teman di ruangan akan bersorak gembira mendengar kabar yang tidak ada baiknya buatku. Aku bisa membayangkan bagaimana rupa wajah teman-temanku itu. Ahh.. andai saja aku bisa segembira itu. Andai saja setiap tetes air mata yang membulir di pipiku bisa digantikan dengan semangkok tawa itu.
Ya, ini hari ke lima puluh satu setelah jiwaku meninggalkanku.  Kamu tidak perlu tau namanya. Kamu hanya boleh tau, bagaimana aku memanggilnya.  Hanya kamu yang tau bagaimana aku memanggilnya, dia bahkan tidak tau kalau aku memangggilnya dengan kata “jiwaku”.  Dan, aku tidak mau memberitahu darimana aku mendapat nama yang terdengar aneh itu. Oiya.. dia punya nama yang  mungkin hanya aku dan dia yang tau. Hmmmm… namanya, “Jkoler" Terserah mau memilih yang mana, yang lebih nyaman kau ingat didalam benak dan disebut bibirmu.
Dulu, aku masih ingat bahagiaku ketika mendengar sang guru tidak masuk mengajar. Artinya aku bisa bebas pergi kemana saja, tentunya bersama Jiwaku. Aku akan menghabiskan waktuku bersamanya sampai jam pulang kuliah tiba. Kita sering makan siang bersama, menonton layar tancap dan mungkin menghitung bintang. 
Tapi sekarang berbeda,
Aku tidak sebahagia dulu,
Benakku bercakap-cakap sendirian, memikirkan hendak kemana kegiatan selanjutnya. Dan yang terlintas hanyalah pergi…menemui Jiwaku. Hatiku menyambut ligat apa yang terbenak, kaki dan tubuhku pun tak kalah bersorak. Ya, aku merindu teramat sangat pada Jiwaku. Entah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Ah, aku tidak mau peduli itu.
Segera aku mengeluarkan ponselku dan dengan riang, jariku menari dibutir-butirnya.
“Hai, sepertinya notebookku ada masalah, aku tidak bisa memberikan nomor  rupiah diujung setiap angka yang kubuat. Apakah kau bisa memperbaikinya?”.
Lama aku menunggu, sampai kemudian dia membalasnya.
“Ya, bisa. Datang saja”.


Tidak perlu menunggu lama, dengan hati yang entah mau gembira atau berduka aku datang menemuinya.
Dia berdiri di ambang pintu dan mengucapkan salam padaku. Aku membalasnya dengan sedikit menundukkan kepala. Aku tidak mau dia melihat rawut kerinduan menggila diwajahku.  Perlahan aku meletakkan tas ransel hitam pekat yang dibeli olehnya beberapa bulan yang lalu ketika hatinya masih berbunga-bunga padaku. Aku duduk dan melihat-lihat sekeliling kamar. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, kamarnya masih saja berantakan. Barang –barang sudah tidak lagi tepat pada tempatnya, sampah-sampah bersebaran dimana-mana. Dan.. tidak sedikit tissue bekas pembuangan cairan putih kental  tepat disebelah kasurnya.  Apa dia melakukannya setiap hari ?
Aku tiba-tiba teringat kala aku masih bersamanya, kala tubuh-tubuh, daging-daging menjadi satu dalam keraguan antara cinta dan nafsu.  Begitu hangat, saat tubuhnya yang kekar itu memelukku, mengecup daging merah dibawah hidungku, menarikan jemarinya disekujur tubuhku..
Aku terhanyut…atau mungkin terbang ke langit hilang..
Saat itu, hanya ada aku, kamu..dan cinta…atau nafsu.

Kadang aku berpikir bahwa cinta dan nafsu itu tidak bisa diperbandingkan. Cinta dan nafsu menyatu dalam satu paket. Cinta tanpa nafsu tidaklah akan mungkin ada dan terjadi, karena cinta tanpa nafsu untuk saling menjaga, saling memiliki bukanlah cinta bagiku. Nafsu tanpa cinta juga adalah percuma. Pencabulan..pemerkosaan ..adalah contohnya.
Lantas, apa dia hanya manusia dengan segumpal nafsu?
Adakah dia cinta, ketika dia dengan mudahnya meninggalkanku. Adakah dia cinta ketika dia bisa melihatku terpuruk tak berdaya, karena kepergiannya.
Mengapa tega… mengapa bisa?
Apa mungkin benar, aku telah ditipu olehnya?
Apa mungkin benar, dia lebih jahat dari apa yang kupikirkan saat ini.
Ahh, entahlah… apapun dia, yang pasti aku mencintainya. Dan masih tetap utuh… seperti saat ini.
---Dikutip seperlunya dari Novel "Asa di Kolong Langit"
To be Continued….




Tidak ada komentar:

Posting Komentar